Free Mustache Black Glitter - Diagonal Resize 1 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Senin, 06 Oktober 2014

Eksistensialisme

EKSISTENSIALISME

EKSISTENSIALISME

Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.

Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.


Etimologis : ex = keluar, sistentia ( sistere ) = berdiri. 


Manusia bereksistensi adalah manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. 


Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat. 


Beberapa tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialisme

Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll. 

Sulit menyeragamkan definisi mengenai eksistensialisme, karena adanya perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri. 

Namun satu hal yang sama : filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.


Ciri - ciri eksistensialisme
1. Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis.Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
3. Manusia dipandang terbuka, belum selesai.Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
4. Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.



Kierkegaard

Nama : Soren Aabye Kierkegaard 
Lahir di Kopenhagan, Denmark 15 Mei 1813.
Belajar teologi di Universitas Kopenhagen, tapi tidak selesai.
Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis. 
Sempat menjauh dari temannya dan agama. 
Sempat bertunangan dengan Regina Olsen, tapi tidak jadi menikah. 
Pada tahun 1849 kembali lagi ke agamnya ( Kristen ). 
Ia meninggal 1855 sebagai orang religius dan dipandang sebagai tokoh di gerejanya. 
Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme, aliran filsafat yang berkembang 50 tahun setelah kematiannya.


Pokok - pokok ajaran Kierkegaard

Kierkegaard mengritik Hegel. Kierkegaard memandang Hegel sebagai pemikir besar, tapi satu hal yang diluapakan Hegel - menurut Kierkegaard - adalah eksistensi manusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘ pada umumnya ‘ atau ‘ menurut hakikatnya ‘, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan,Manusia itu eksistensi.
Eksistensi berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya. Hanya manusia bereksistensi, karena dunia, binatang dan sesuatu lainnya hanya ‘ada’.Juga Tuhan ‘ada’.Tapi manusia harus bereksistensi, yakni menjadi ( dalam waktu ) seperti ia ( akan ) ada (secara abadi).

Ada tiga cara bereksistensi 
Tiga sikap terhadap hidup, yaitu : sikap estetis, sikap etis dan sikap religius.
1. Sikap estetis : Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan.Cara hidup yang amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
2. Sikap etis: Sikap menerima kaidah - kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihar cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.
3. Sikap religius : Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia.


Manusia menjadi seperti yang dipercayainya
Pernyataan Parmenides hingga Hegel : ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutunya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi.Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yang pasif, atau sebagai pemain / individu yang menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi kebebasannya.

Waktu dan keabadian
Setiap orang adalah campuran dari ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia adalah gerak menuju Allah, tapi juga terpisah / terasing dari Allah. Manusia dapat menyatakan YA kepada Tuhan dalam iman, atau mengatakan TIDAK. Jika ia mengatakan YA, ia akan menjadi yang ia ada. Manusia hidup dalam dalam dua dimensi sekaligus : keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dalam ‘ saat’. Saat adalah titik dim,ana wkatu dan kebabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam saat, yaitu saat pilihan.Pilihan itu suatu ‘loncatan’ dari waktu ke keabadian.


Subyektivitas dan eksistensi sebagai tugas
Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sebagai orang tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dan religius. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggung jawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dna mengambil keputusan sendiri. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.


Publik dan individu
- Pendapat umum kerap didukung oleh khalayak ramai yang anonim belaka.Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.

- Orang sering berusaha menggabungkan diri dalam kelompok dengan mengumpul tanda tangan. Ini bukti orang itu tidak berani tampil sendiri secara berarti.Mereka itu orang - orang lemah.Mengandalkan diri pada kekuatan numerik.Ini adalah kelemahan etis.Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain.” Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan.Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara anak - anak”.



EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE

Jean Paul Sartre
Lahir di Paris 1905
1929 menjadi guru
1931-36 dosen filsafat di Le Havre
1941 menjadi tawanan perang
1942-44 dosen Loycee Pasteur
Ia banyak menulis karya filsafat  dan sastra. 
Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.

Pemikiran filsafat Sartre
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sbg dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yg tdk punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dg benda lain yg keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Asas pertama utk memahami manusia hrs mendekatinya sbg subjektivitas. Apapun makna yg diberikan pd eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggungjawab yg menjadi beban kita jauh lebih besar dr sekedar tanggungjawab terhadap diri kita sendiri.
Dibedakan ‘berada dlm diri’ dan ‘berada untuk diri’. 
Berada dalam diri = berada an sich, berada dlm dirinya, berada itu sendiri. Sementara berada untuk diri=berada yg dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dg keberadaannya. Bertanggungjawab atas fakta bhw ia ada. Mis. Manusia bertanggungjawab bhw ia pegawai, dosen. Benda tdk sadar bhw dirinya ada, tp manusia sadar bhw dia berada. Pd manusia ada kesadaran. Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri, melainkan kesadaran diri. Baru kalau kita scr refleksif menginsyafi cara kita mengarahkan diri pd objek, kesadaran kita diberi bentuk kesadaran akan diri.
Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.

Yang mengurangi kebebasan manusia
Beberapa kenyataan (kefaktaan) yg mengurangi penghanyatan kebebasan:
1. Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
2. Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
3. Lingkungan sekitar (Umwelt): Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
4. Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Walaupun kefaktaan ini melekat dlm eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tdk bisa dikurangi/ditiadakan

Ketubuhan manusia
Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sbg wujud yg bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia.  Tubuh sbg pusat orientasi tdk bisa dipandang sbg alat sematamata,tp mengukuhkan kehadiran kita sbg eksistensi.


Komunikasi dan cinta
Komunikasi = suatu hal yg apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, krn setiap kali org menemui org lain pd akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorg seolah2 membekukan org lain.  Terjadi saling pembekuan shg masing2 jadi objek.

Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa krn objektifikasi yg tak terhindarkan.

Etika dan Moral

Teman-teman ini lanjutan dari pertemuan ke 5 yaitu ETIKA DAN MORAL ya teman-teman kita telajar yok tentang etika moral heh supaya kita bisa lebih beretika lebih baik lagi heheh

Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral (moral philosophy).
Etika berasal dari kata Yunani yaitu Ethos: watak.
Moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal), moris (jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.
·      Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan dimaksudkan di sini adalah yang dilakukan secara bebas dan sadar.
·      Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

ARTI ETIKA
       Etika sebagai ilmu
         “Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.”
       Etika sebagai kode etik
         “Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.”
       Etika sebagai sistem nilai
         “Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.”

ETIKA DIBEDAKAN MENJADI 2:
·      ETIKA PERANGAI
         Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai    manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
       Contoh: berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
       ETIKA MORAL
         Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
         Contoh: berkata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain,   menghormati orang tua atau guru, membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu

Berdasar Kajian Ilmu:
1.     Etika Normatif : mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.    Etika Fenomenologis : mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma.

TUJAN BELAJAR ETIKA
       Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
       Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

FENOMENOLOGI KESUSILAAN
·      Fenomenologi = fenomenon + logos
·      Fenomenon  sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya (sering disebut gejala)
·      Logos = uraian, percakapan
·      Fenomenologi: Uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala.

ETIKA UMUM : Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang beraku bagi segenap tindakan manusia. Etika umum berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

ETIKA KHUSUS : Etika khusus membahas prinsip-prinsip moral dasar itu dalam hubungan dengan kewajiban manusia dalam pelbagai lingkup kehidupannya. Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
        Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap      dirinya sendiri.
        Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku
         manusia sebagai anggota umat manusia.

Etika Profesi
Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.
Ciri-ciri Etika Profesi :
·      Adanya pengetahuan khusus.
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
       Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi.
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
       Mengabdi pada kepentingan masyarakat,
artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
       Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
       Menjadi anggota dari suatu profesi.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :
1.     Tanggung jawab
·      Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
·      Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2.    Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3.     Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Kode Etik
Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Tujuan Kode Etik
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Aliran dalam Etika
Eudemonisme: (Yunani= eu+daimon= roh atau semangat yang baik). Pandangan aliran ini menekankan bahwa kebaikan tertinggi manusia terletak pada kebahagiaan atau situasi yang secara umum baik. Mereka meyakini hal2 berikut:
a)   adanya suatu skala nilai-nilai, asas-asas moral atau aturan2 bertindak (code of conduct)
b)   lebih menguntungkan hal2 yg bersifat spiritual atau mental daripada yg bersifat inderawi/ kebendaan 
c)    lebih mengutamakan kebebasan moral daripada ketentuan kejiwaan atau alami.
d)   lebih mengutamakan hal yg umum daripada yang khusus.

Aliran Pemikiran Etika
v Hedonisme (Yunani = hedone: kenikmatan atau yang menyenangkan). Aliran hedonisme menyatakan bahwa kesenangan/ kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia oleh karena itu reguklah kenikmatan selama masih bisa direguk.
v Egoisme: kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain. Sebaliknya aliran yang menekankan dan melihat kesenangan atau kebahagiaan orang lain menjadi tujuan segala usaha manusia disebut: altruisme (Latin: alter= yang lain atau orang lain)
v Utilitarianisme:  (Latin: uti, usus sum= menggunakan atau utilis= yang berguna). Ini merupakan bentuk hedonisme yang digeneralisir.
v oral). Adalah etika kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral.
v alam situasi konkret individual atau bagaimana situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.

AMORAL DAN IMORAL
o   Amoral:
a.    “tidak berhubungan dengan konteks moral”
b.    “di luarsuasana etis”
a.     “non-moral”
o   Immoral:
a.    “bertentangan dengan moralitas yang baik”
b.    “secara moral buruk”
c.     “tidak etis”

BEDA ETIKA DAN ETIKET

ETIKA
ETIKET
1)    Menetapkan norma perbuatan,apakah boleh dilakukan atau tidak, misal: masuk rumah orang lain tanpa izin.
a)   Menetapkan cara melakukan perbuatan, menunjukkan cara yang tepat, baik, dan benar sesuai dengan yang diharapkan
2)   Berlaku tidak bergantung pada ada tidaknya orang lain, misal larangan  mencuri selalu berlaku, baik ada atau tidak orang lain.
b)   Berlaku hanya dalam pergaulan, jika tidak ada orang lain etiket tidak berlaku.
3)    Bersifat absolut, tidak dapat
    ditawar-tawar, misal: jangan
    mencuri, jangan membunuh
c)    Bersifat relatif, dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan dapat dianggap sopan dalam
    kebudayaan lain.
4)  Memandang manusia dari segi dalam <batiniah>
d)   Memandang manusia dari segi luar <lahiriah>

Perbedaan Etika dan Hukum
·      Hukum lebih dikodifikasi daripada etika; etika tidak dikodifikasi.
       Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja; etika menyangkut juga sikap batin seseorang.
       Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan).
       Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para individu dan masyarakat.
       Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
       Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu; hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.

PPT SFORZO Field Trip

Berikut adalah hasil dari power point kami :
















Chibi Iron Man